Posted by on 25 Juni 2019

Setiap orang yang mempunyai kampung halaman, pasti akan merindukan kampung halamannya, tanah kelahirannya, ketika berada di tanah rantau. Apalagi kalau harus merantau seorang diri, tanpa ada seorang pun keluarga menyertai.

Berbeda dengan saya. Semenjak saya meninggalkan kampung, karena ikut orangtua yang pindah tugas di kota, saya jadi mengenal dunia luar. Di mana saya bisa mengenal huruf Braille, dan mengetahui bahwasannya ada sekolah yang bisa mengajarkan baca tulis kepada orang seperti saya, yang katanya disebut tunanetra. Saat saya tinggal di desa, saya tidak pernah tahu menau apa itu tunanetra, apa itu disabilitas atau difabel, dan apa itu Huruf Braille. Kalau kalian bertanya apakah saya nggak pernah mendengar di televisi, jawabannya pernah. Tapi saya belum ngerti maksudnya apa. Kalau pun ada yang kasih tahu, saya pikir itu Cuma karangan, atau nggak mungkin. Misalnya ada tunanetra yang baca Al-quran, menjadi atlet, wahhh… betul-betul itu di luar kepala. Dalam hati saya berkata “bagaimana mungkin, Masak iya, nggak percaya”. Kalau kalian bertanya apakah saya nggak pernah mendengar Sekolah Luar Biasa, Jawabannya juga pernah, Tapi saya dan keluarga mengira kalau itu khusus untuk yang tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa. Saya pun mulai mendengar istilah-istilah itu setelah saya tinggal di kota. Sebelumnya saya menggunakan kata-kata yang mungkin bisa dianggap kurang sopan.

Saya tidak mengatakan desa saya yang awam atau kampungan. Tapi bisa jadi saya yang tidak mau percaya kalau di luaran sana banyak tunanetra yang sukses, berhasil. Mengingat usia saya yang masih suka banyak bermain.

Saya terlahir ke dunia dengan keadaan bisa melihat, seperti anak-anak pada umumnya. Tapi saat Allah berkehendak lain, di usia saya yang ke-delapan tahun, Allah mengambil penglihatan saya. Saat itu saya sudah duduk di kelas dua SD, dan sebentar lagi naik kelas tiga, karena kejadiannya pada bulan Maret. Syukur-syukur guru masih mau memberikan saya rangking, meskipun semenjak saya sakit, saya sudah tidak pernah bersekolah lagi. Saya mendapat rangking empat waktu itu dari 30 siswa. Turun dari yang sebelumnya rangking 3.

Saya sempat berhenti sekolah selama dua puluh bulan, sebelum ada salah seorang keluarga yang menawarkan untuk saya dilanjutkan sekolahnya di sekolah mama yang Alhamdulillah berprofesi sebagai seorang guru sekolah dasar. Akhirnya tawaran itu direalisasikan. Meski saya harus pergi sekolah hanya datang, duduk, diam, supaya nggak jenuh terus-terusan di rumah.

Hingga pada akhirnya, Kedua orangtua saya dipindah tugas di kota, dan saya pindah sekolah ke Sekolah Luar Biasa yang kebetulan jaraknya tak jauh dari rumah, jadi saya tidak perlu diasramakan. Disitulah saya tahu banyak hal mengenai disabilitas. Semangat saya untuk menggapai cita-cita yang dahulu pernah padam, kini kembali menyala.

Hari demi hari berlalu, saya mulai menikmati hari-hari menyenangkan tinggal di kota. Karena sekarang saya sudah bisa mengakses internet, mendengarkan radio, dan berkonsentrasi saat ingin belajar. Kalau di kampung, jaringan internet susah, siaran radio nggak ada, sering mati lampu yang menyebabkan tidak bisa menyalakan TV, dan belum lagi didesa banyak keluarga, jadi rumah jarang sepi. Salah satu yang bisa mengganggu konsentrasi saya belajar adalah saat dalam keadaan riuh, gaduh, atau apalah semacamnya. Boleh sih rame, asalkan nggak pakek ribut, kayak ngomong sama orang budek saja. Kata orang, Kalau mulut orang desa itu besar-besar. Tapi entahlah kebenarannya seperti apa, yang jelas, kalau saya perhatikan di desa saya, sepertinya “ya”. Tapi nggak tahu kalau didesa kalian, he he he.

Itulah mengapa saya lebih senang tinggal di kota ketimbang di desa. Sebenarnya ada plus minus-nya sih, di kota atau pun di desa. Kalau di kota selain menyenangkan, ada juga nggak enaknya. Yaitu jarang bisa ngumpul sama keluarga, terutama orangtua, lantaran harus bekerja dari pagi sampai soreh hari, dan adik-adik saya yang harus menuntut ilmu dari pagi hingga siang hari, begitu pun dengan saya. Kalau di desa, ya kebalikannya. Lebih sering ngumpul sama keluarga, tapi sayangnya banyak waktu yang terbuang karena nggak bisa belajar dan mendapat informasi. Bagaimana dengan kalian, lebih senang tinggal di desa, atau di kota?

Sekilas Tentang Penulis
Miftah Hilmy Afifah, atau yang biasa disapa Afifah adalah seorang tunanetra yang berasal dari Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Senang dan mempunyai semangat untuk mengembangkan kemampuan dalam menulis. Saat ini tengah menjalani masa penerimaan mahasiswa baru di salah satu Universitas di Nusa Tenggara Barat. Ia memilih program studi Ilmu Komunikasi sebagai bukti keseriusannya untuk menggalih potensi di bidang jurnalistik. Ia juga berharap kelak akan menjadi seorang penulis yang karyanya dapat memberikan inovasi untuk masyarakat. Semangat dan pantang mundur buat Afifah!

Comments

  1. ปั้มไลค์
    29 Agustus 2019

    Leave a Reply

    Like!! I blog quite often and I genuinely thank you for your information. The article has truly peaked my interest.

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

*